Kirab yang menempuh jarak sekitar 2 kilometer, berangkat dari lapangan Desa Kirig dan berakhir di Makam Eyang Suryo Kusumo di Desa Mejobo itu, membawa sejumlah gunungan yang isinya antara lain, hasil bumi dan buah-buahan, tiwul, ingkung ayam dan nasi.
Ribuan peserta kirab dari warga Desa Kirig dan Mejobo yang sebagian besar peserta didik dari mulai TK hingga SMA, berangkat dari lapangan Desa Kirig, selanjutnya melewati rute Jalan Raya Mejobo, menuju Makam Eyang Suryo Kusumo.
Pada barisan paling depan, adalah pembawa sejumlah gunungan, tiga gunungan berisi sayuran dan hasil bumi, satu gunungan berisi buah-buahan, tiwul 15 tampah, 30 ingkung ayam dan satu kuintal nasi.
Kecuali gunungan ayam yang berisi 30 ingkung ayam dan nasi satu kuintal, dibawa langsung ke Makam Eyang Suryo Kusumo. Ingkung ayam yang jumlahnya 30 ekor dan masi satu kuintal itu, khusus untuk berkat atau kenduri haul Eyang Suryo Kusumo.
Setelah didoakan oleh sesepuh dan juru kunci makam, ingkung dan
nasi akan dibagikan kepada warga dua RT, yakni RT 09 dan RT 10, Desa Mejobo
yang tempat tinggalnya di sekitar Makam Eyang Suryo Kusumo.
Dari jumlah ingkung ayam 30 ekor, 3 ekor diikutsertakan dengan
gunungan untuk kemduian diperebutkan warga, sedangkan 27 ekor untuk selamatan
haul Eyang Suryo Kusumo.
Siapakah Eyang Suryo Kusumo? Konon, dulu ada seseorang dari Mataram yang
menjadi demang (setingkat dengan kepala desa saat ini -red) bernama Ki
Secolegowo. Beliau bersama keluarganya tinggal di sekitar masjid Al-Ma’wa.
Karena Ki Demang tersebut masih trah Mataram, daerah yang ditinggalinya
terbebas dari biaya pajak, atau disebut tanah perdikan dari kata merdeka.
Selain daerah ini, desa-desa di sekitarnya tetap membayar pajak. Bahasa
Jawanya, “mbayar pajak kejaba tanah iki”. Kata “Kejaba” itulah yang kelak
menjadi kata “Mejobo” hingga menjadi nama sebuah daerah di sini.
Akan tetapi, setelah Ki Demang memimpin beberapa tahun di sana, beliau kembali
lagi ke daerah asalnya, Mataram. Sejak saat itu, daerah ini kembali membayar
pajak seperti semula. Meski begitu, nama Mejobo tetap melekat di warga
masyarakat desa itu, hingga sekarang.